[Pendidikan] Tantangan Dalam Penerapan Kurikulum Merdeka
Jakarta, 26 November 2025 – Penerapan Kurikulum Merdeka (Kurmer) di seluruh satuan pendidikan kini memasuki fase krusial, ditandai dengan menculnya empat tantangan besar yang harus segera di atasi oleh guru dan kepala sekolah. Tantangan ini muncul karena perlunya respons kritis terhadap hambatan implementasi di lapangan. Keberhasilan transformasi pendidikan ini sangat bergantung pada penanganan serius terhadap kesiapan SDM dan optimalisasi asesmen.
“Respons kritis ini harus dilakukan terutama oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran,” tegas Kepala Sekolah SMA Avicenna Jagakarsa, Muqorobin, M.Pd. Muqorobin mempublikasikan refleksi tantangan ini melalui KSPSTK Kemendikbudristek, Jakarta, pada senin, 25 November 2025.
Tantangan mendasar yang paling utama adalah kesiapan guru sebagai pilar utama pelaksana Kurikulum Merdeka, mengingat program pengembangan profesi yang ada belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan mutu.
Oleh karena itu, penguatan kompetensi guru harus dilakukan secra konsisten dan difokuskan pada perubahan paradigma (shift paradigm), serta aspek psikologis, kultural, dan sikap adaptif. Upaya pengembangan ini dapat dilakukan melalui in house training, FGD, workshop, dan pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM) di tingkat satuan pendidikan, demi menggerkkan program Merdeka Belajar.
Tantangan vital kedua yang sering diabaikan adalah pelaksanaan fungsi asesmen pembelajaran. Sebagai besar guru masih terbatas pada asesmen akhir (sumatif), padahal konsep Kurikulum Merdeka menuntut pelaksanaan asesmen yang bersifat siklus dan harus mencakup asesmen awal, asesmen proses (for and as learning) dan asesmen akhir (of learning). Rangkaian ini merupakan satu kesatuan yang terintegrasi.
Untuk mengatasi hal ini, asesmen harus bersifat holistik, mengukur seluruh aspek kompetensi dan karakter peserta didik. Selain itu, instrumen asesmen perlu dikembangkan secara bervariatif tidak hanya tes tertulis dangkal tetapi mencakup project, video, karya kreatif, dan alat tes lain yang fokus pada penguatan kemampuan Higher Order Thinking Skill (HOTS).
Dua tantangan lainnya mencakup dukungan sistem dan kolaborasi. Pertama, tantangan pemberdayaan teknologi digital yang menuntut guru menguasai e-learning, hybrid learning, dan platform pembelajaraan untuk menjadikan proses belajar lebih luas dan interaktif, sesuai dengan tuntutan zaman. Kedua, tantangan untuk memperkuat jaringan komunikasi dan kemitraan dengan pemangku kepentingan, dimana peran komite sekolah, dunia industri, perguruan tinggi, dan organisasi profesi harus dioptimalkan untuk sinergi dan gotong royong Merdeka Belajar.
Tantangan-tantangan ini menjadi refleksi bersama bagi Kemendikbudristek dan seluruh satuan pendidikan. Dengan mengatasi keempat titik kritis ini, diharapkan kegagalan implementasi Kurikulum Merdeka dapat diantisipasi dan cita-cita peningkatan mutu SDM serta penguatan integrasi sosial bangsa dapat tercapai di masa depan.
Komentar
Posting Komentar